Sentuhan Indah Itu Bernama Cinta

Cinta atau asmara atau kasih tumbuh dan berkembang dalam hati. Banyak yang menafikan, berpura tidak ada, mengabaikan, atau hadirkan dalam berbagai bentuk, cara dan makna yang yang berbeda-beda. Kapankah cinta hadir dan bersemi dalam hati, terkadang lahir tanpa disadari.Bagai orang tua pada anaknya, pada sesama mahluk Tuhan, pada sahabat, pada saudara, bahkan pada benda dan cara dimana cinta itu tumbuh.

Hindu hadirkan banyak ceritera mengenai cinta. Salah satu dari sekian banyak, kisah mengenai Bethara Manmatha adalah perwujudan Dewa Asmara yang hadir di dalam segala sesuatu yang indah dan elok. Dalam dunia ini ia dikenal sebagai Kàmeswara / Kàma dalam bentuk jasmani / fisik (Kakawin Smaradhana 1.1-7) dalam P. J. Zoetmulder (1983:369)

Pupuh terakhir dalam Kakawin Smaradhana ini menceritakan tentang inkarnasi-inkarnasi Kàma dan Ratih. Ketika sedang bercengkrama Umà melihat sisa abu dewa dan dewi asmara; terharu dan penuh rasa terima kasih ia memperoleh janji dari Siwa, bahwa mereka akan dilahirkan kembali. Semula mereka menjadi Ñamuûþi dan Ratnavatì, dalam Udyànì-Màlava. Dalam inkarnasi berikut Kàma menjadi Udayana, raja Hastinàpura, sedangkan Ratih berkembar, menitis dalam kedua istrinya, yaitu Bàsavàdà dan Ratnàvalì. Akhirnya Kàma turun ke bumi sebagai raja pulau Jawa, yang sebetulnya merupakan kitab Kumarà di Kaúmir yang oleh Dewa Úiva telah dijadikan suatu pulau yang indah permai. Ratih dilahirkan kembali di Jaògala; di sana ia dikenal sebagai Kiraóà ratu. Dengan demikian karena anugrah Dewa Úiva, Úrì Baginda Kàmeúvara ini menjadi raja di Dahana dengan dewi Kiraóa sebagai permaisurinya (38.1-39.7).

Maka, sejauh mana cinta hadir dalam diri kita?
Sudahkah kita mampu menerima cinta itu apa adanya?
Mengusahakan yang sebaiknya, bagi diri kita, dan juga orang lain
untuk dapatkan dan miliki cinta itu? tanpa saling menyakiti, tanpa ada yang terluka,
hidup abadi selamanya, di tiap masa
menjadi cinta abadi sepanjang masa......

0 komentar:

Poskan Komentar