Cinta


Cinta....
Kau bawa mengalir tiap bulir air mata bahagia
Seakan putih awan kalah dengan asmarandhana di dada
Bersama hadir nya sang suka bertahta di cahya mata

Cinta....
Tak hendak ku hanya terlahir maya dan memicing mata
Dalam tiap detik yang terbentang
Walau jarak ruang dan waktu bukan milik kita



Cinta.....
Bukan buatku segala asa yg ada di antara kita
Jika hanya karena batasan yang bakal melecut cinta
Jadi takabur semata dalam batas duniawi

Ah cinta...
Biarlah abadi dalam damai di hati
Tersimpan dalam jaring kasih
Antara dua hati.....

Berpita Cita


Suka ku tiba
dalam sekejap menjelma tiada maya
Cita tak lagi cuma hasrat belaka
kuseret dalam jejak panah rejuna




Suka ku tiba
menari bagai ratu segala cinta
Tak satupun berani mencela
karna cinta lahir indah adanya

Suka ku tiba
jangan biar aku menggelepar terkapar
Berilah seteguk asmara yang kau punya
kan kuteguk dengan sepenuh bibir bergetar

Suka ku tiba
biarlah malam jadi musuh tiada berujung
Karena ku benci gelisah yang merona
takkan lagi hari berlalu tanpa kuhitung

Dewa Sarados


Arangku patah sejenak,

Sayapku terkepak setengah

terbiaskan luka di batas maya

Tiada yang bisa pahami resahku di dada


Namun, takkan pernah

Sang bibir berhenti menyitir

Segala dengung puja dan pujiku

bagi asa yang bergulir perlahan

mematokku bersimpuh di batas mampu


Hingga akhirnya, bianglala merona

Dikau berikan kasih terindah

atas segala yang pernah ada.

Astungkara, Hyang Widhi Wasa...

takkan pernah hentiku memuja

dalam segala nada terlahir apa adanya


Sarados, oh Dewa Sarados....

Kan kubuktikan, bahwa aku bisa

Takkan kubiarkan mereka permalukan aku

Walau sedikit ku punya kemaluan

karena justru seringnya memalukan

namun aku tetaplah Santi yang malu-malu

karena kutahu yang ku mau

dan dibatas mana berlabuh mampuku....

Elangku Sayang


Elangku sayang....
Resahku karenamu
Resahmu tentang kita

Bawalah dalam setiap mimpimu
Di hari-hari tak bisa tenangku
Dalam batas ruang dan waktu
yang tak cukup ramah bagi kita



Elangku sayang,
Ada yang takkan mampu
terselubung kabut di penghujung rindu

Dimana kau sembunyikan tumpahan jiwaku
Tak kah rela berbagi dengan sang pembuluh rindu
Jangan ragu tentang jiwaku
Jangan biar hatiku beku dalam pilu.....

Satu Ketika Di Satu Masa


Kasih......
Dimanakah kau sembunyikan pusaramu dalam jerat masa?
Akankah gundah tercipta di sepanjang gigil malamku?
Atau, hanya bakal jadi mimpi sunyi tiada bertepi....

Biar kujemput rinduku
Bila sayup terdengar denting dawai memanggil melambai
Dari petikan jemari lentik sang dewi asmara...
Dia penguasa dunia bagi para pencinta

Masihkah ujung temaram jadi jurang pemisah kita?
Atau takdir kita hanya sampai disini
Bermain dengan alam maya berbagi duka cerita
Karena tidak cukup ternyata asa yg kita jaga bersama

Kasih,
Bila ternyata tempa tidak cukup bicara
Maka, siapa yang berhak atas tahta bagi jiwaku?
Bukan hanya segala rindu, setunduk bisu dan kelu...

Dikaukah Pria Di Balik Pintu Itu???


Di batas malam, hasratku membara
Sepenuh gelora asmara
karena di bara segala suka dan duka cita

Aku sedang ingin bercinta
Buatlah pelangi jembatannya
jangan ada nestapa mendua,
kucari, kan kuketuk tiap pintu di dunia



Sambut aku, Sang Dewa cinta
beri aku panahmu menghujam di dada
jangan hanya sebatas kata yang kutanya

Aku menari.....
Tarianku telanjang dalam segala nisbi
bukan munafik yang kupinta terlahir disini

Kau tak kan pernah tahu
Karena, bahasa bahkan bukan lagi milikku
Secuil mimpiku untukmu...

Asmaraku di Jiwa


Merah membara di tepian cinta.
Resahku karna mu, kekasih....

Duhai asmara,
Beginikah kau rajam jiwa?
Seberapa jauh jejak kaki terpatah dalam langkah



Aku hadir dalam angkuhmu
Aku ada bagi duniamu
Namun kau gusur dia yang bagimu tak layak kau puja

Kuasamu....
Bukan tak bisa kupinta
Janjiku....
Bukan tiada dalam tiap doa

Terpuruk ku disini
dalam diam di tiap penghujung malamku
dalam bulir air mata yang jatuh tiba-tiba

Bawa dia bagiku
agar kami bisa bercinta di laut asmara...